Friday, January 27, 2017

Masakan Rumah, The Silent Killer?


Setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk keluarganya. Termasuk juga dalam hal penyajian menu masakan sehari-hari. Menu seimbang dan bergizi menjadi acuan untuk mendukung tumbuh kembang si kecil dan kesehatan seluruh anggota keluarga. Memasak sendiri adalah cara yang tepat untuk menghasilkan masakan yang sehat. Karena kita memilih sendiri bahan makanan berkualitas dan mengolahnya di dapur rumah yang bersih. 

   Bandingkan dengan makanan langsung jadi yang bisa dibeli di pinggir jalan atau di restoran. Kita tidak tahu seperti apa bahan yang diolah. Apakah kualitasnya bagus atau tidak. Kita juga tidak tahu susasana tempat mengolah makanan tersebut. Apakah dapurnya bersih atau jorok. Belum lagi cara penyajian makanan dengan alat makan yang belum terjamin kebersihannya. Pokoknya, masakan rumah is the best untuk menghadirkan masakan yang sehat untuk keluarga.

   Tapi, tahu nggak sih. Ternyata, masakan rumah bisa jadi berbahaya jika kita tidak tahu cara mengolahnya dengan benar. Bahkan bisa menimbulkan gangguan kesehatan, lho! Duh, apa yang salah ya?

   Penasaran, saya datang ke acara Simposium "Masakan Rumah The Silent Killer" yang diadakan tepat pada peringatan hari gizi nasional tanggal 25 Januari 2017. Bertempat di RSPP Pertamina Jakarta di Ballroom Cheers Residental, saya bersama rombongan dari Bogor tiba di lokasi pada pukul 10.30 WIB. Sebelum acara dimulai, para peserta disuguhkan makan siang yang lezat dan kami pun sempat menunaikan shalat dhuhur terlebih dahulu.


Makan siang dan coffee break

   Acara dimulai pukul 13.00 WIB. Pembawa acara Mbak Tata menyapa dan membuka acara dengan games untuk para peserta. Saya ikut serta dalam games ini dan berhasil mendapatkan hadiah sebuah celemek masak yang cantik dari minyak goreng SunCo sebagai penyelenggara. Aih, tahu aja kalau saya nggak pernah punya celemek masak seumur-umur, hihihi. Terima kasih, SunCo.



Saya (ketiga dari kanan) ikut bermain games (foto: @kacamatahani)
   Acara dilanjutkan dengan menghadirkan para pembicara ke panggung. Pembawa acara selanjutnya adalah Mas Zul. Sebelum materi dimulai, Mas Zul bertanya kepada saya tentang kebiasaan anak-anak yang suka jajan. Apakah saya tidak cemas dengan jajanan yang ada di luar sana? Tentu saja saya cemas karena jajanan di luar tidak terjamin kebersihannya. Saya kerap membawakan bekal sekolah yang dimasak sendiri dari rumah. Kemudian Mas Zul bilang, masakan di rumah belum tentu lebih menyehatkan lho. Selanjutnya akan dijelaskan oleh para pemateri yang bergantian membawakan topik yang berbeda namun saling berkaitan dengan tema hari ini.



Para pemateri yang hadir
  Pemateri pertama adalah Bapak Dr.Entos Zainal, DCN, SP, MPHM sebagai Sekjen PERSAGI yang menjelaskan tentang “Gizi Kunci untuk Meningkatkan Anak Cerdas”. Beliau menjelaskan bahwa orang tua harus mempersiapkan tumbuh kembang anak-anak dengan memperhatikan gizi yang baik.

  Faktor gizi berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan otak. Gizi anak sudah dimulai dari sejak dalam kandungan. Ibu yang terkena anemia saat hamil dapat melahirkan bayi yang kurang gizi. Kekurangan gizi pada tubuh dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia, yaitu meliputi:

  • Gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus).
  • Hambatan perkembangan kognitif (nilai sekolah dan keberhasilan pendidikan).
  • Menurunkan produktivitas pada manusia dewasa.
  • Gangguan metabolisme tubuh hingga mudah terserang penyakit

  Penyerapan gizi yang baik dapat mendukung perkembangan sel otak dan syaraf. Zat gizi yang diperlukan terdiri dari: zat gizi makanan (energi, protein, lemak), dan zat gizi mineral (vitamin A, D, E, K). Untuk menyerap vitamin A,D,E, dan K diperlukan lemak dalam tubuh kita. Jadi, lemak itu penting untuk penyerapan gizi. Tentu saja, bukan lemak secara berlebihan, ya.


Dr. Entos Zainal
   Pemateri kedua adalah Ibu Theresia Irawati SKM, M.Kes yang menjelaskan tentang “Gula Garam Lemak dan Germas”. Beliau adalah Kasi Kemitraan Subdit Advokasi dan Kemitraan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI. 

   Germas adalah gerakan masyarakat hidup sehat. Coba teliti dulu, seperti apa gaya hidup kita? Sehat atau tidak? Jika belum menjalani hidup sehat, ayo mulai Germas dari sekarang! Kenapa sih banyak orang yang susah menjalani gaya hidup sehat? Kemajuan teknologi membuat orang malas jadi bergerak, alias 'mager' kata istilah anak muda jaman sekarang. Nah, dampaknya tentu saja tubuh jadi gampang terserang penyakit.

   Dalam 30 tahun terakhir, terjadi perubahan pola penyakit terkait dengan perilaku manusia. Penyebab terbesar kesakitan dan kematian adalah penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular seperti infeksi saluran pernafasan atas, tuberkulosis, dan diare. Sedangkan penyakit tidak menular yaitu tekanan darah tinggi, stroke, jantung, dan diabetes.

   Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI), penyakit tidak menular (PTM) mencapai 71% penyebab kematian di Indonesia. PTM yang kerap menyerang tubuh disebabkan oleh kurang aktivitas fisik, merokok, kurang makan sayur, kurang minum, tidak teratur BAB (buang air besar).

  Oleh sebab itu PTM perlu dicegah oleh Germas, caranya: 
  • Batasi konsumsi pangan asin, asam, berlemak.
  • Bijak dalam memilih makanan. Gunakan minyak goreng yg baik.
  • Pola hidup hidup sehat.
  • Perbanyak aktivitas fisik.
  • Banyak makan buah dan sayur.
  • Rutin memeriksakan kesehatan. 
  Menurut data dari Depkes, sebanyak 26,2% penduduk Indonesia mengkonsumsi garam berlebih. Sedangkan batas aman konsumsi garam per hari adalah 2.000 gram saja. Sedangkan gula cukup 50 gram (4 sdm) per hari, dan lemak cukup 67 gram per hari. Duh, kayaknya saya termasuk di dalam daftar nih. Harus perbaiki pola makan!

Ibu Theresia Irawati (tengah)

  Pemateri ketiga adalah Ibu Tirta Prawita Sari sebagai praktisi kesehatan yang menjelaskan tentang “ Penyakit Tidak Menular, Faktor Resiko yang Mempengaruhinya, Serta Cara Pencegahannya”. Beliau menjelaskan bahwa kehidupan kita berevolusi, tidak sama dengan kehidupan para leluhur di masa lalu. Gaya hidup jaman dulu tentu saja tidak sama dengan gaya hidup jaman sekarang.

Ibu Tirta Prawita Sari

  Masalah utama di negara kita adalah kurang gizi dan kelebihan gizi. Hampir seluruh dunia menggemuk karena gaya hidup yang salah. Bahkan menjadi yang tertinggi untuk penderita diabetes, kolesterol, dan perokok aktif. Duh, sedih ya. Apalagi saya termasuk salah satu yang terus bertambah gendut, hiks...

  Kegemukan adalah kondisi dimana lemak tubuh berlebih. Lemak terbagi menjadi dua bagian, yaitu lemak yang ada di alam dan lemak yang sintetik. Lemak alam terbagi lagi menjadi lemak jenuh lemak tak jenuh, dan lemak trans. Jenis lemak yang kerap dikaitkan dengan penyakit jantung adalah lemak jenuh. Padahal, menurut penelitian, lemak jenuh tersebut tidak berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler. Penyebab penyakit jantung adalah lemak trans.

   Lemak trans berasal dari lemak jenuh. Salah satunya bersumber dari mentega (bukan margarin). Minyak goreng yang dipanaskan berulang kali bisa berubah kandungannya menjadi lemak trans. 

Berikut ini adalah cara menghindari lemak trans: 
  • Kurangi konsumsi makanan yang sudah diproses 
  • Pilih butter daripada margarin 
  • Pilih olive oil daripada minyak kelapa atau minyak sayur 
  • Untuk menggoreng, lebih baik memilih minyak kelapa atau kelapa sawit daripada minyak lainnya 
  • Baca label pada kemasan 
Contoh label pada makanan (gambar sebelah kanan)

  Selanjutnya, hadir Mas Christian Sugiono sebagai brand ambassador minyak goreng Sunco. Beliau berbagi cerita tentang pola hidup sehat yang dijalaninya. Sejak menginjak usia kepala tiga, beliau mulai memperhatikan kesehatan tubuhnya. Apalagi sejak berkeluarga, waktu untuk aktivitas fisik berkurang.

  Agar tetap fit, artis idola para ibu ini rajin berolahraga lari dan renang seminggu sekali. Sedangkan untuk asupan makanan, beliau sudah mengurangi konsumsi garam bahkan mengusahakan tanpa garam sedikitpun. Ini berlaku juga untuk anggota keluarga lainnya. Kesimpulannya, makanan harus kita jaga sedemikan rupa agar kesehatan dapat terjaga.

Mas Christian Sugiono berbagi cerita hidup sehat yang dijalaninya

  Wah, dapat banyak ilmu bermanfaat nih! Selanjutnya, Ibu Mulina Wijaya sebagai Deputy Marketing Manager SunCo ikut berbicara tentang tema simposium hari ini, yaitu masakan rumah yang bisa menjadi silent killer.

   Seperti yang sudah saya tulis di awal paragraf, kita tidak pernah menduga bahwa masakan rumah yang aman dan bersih dibandingkan jajanan dari luar bisa menjadi silent killer. Ternyata, masakan rumah memang bisa menjadi 'silent killer' atau membunuh secara perlahan jika tidak seimbang kadar gizinya dan keliru dalam cara pengolahannya.

Ibu Mulina, nomor dua dari kanan (foto: Twitter @SunCo_ID)

  Mengolah masakan rumahan biasanya kita selalu menggunakan minyak goreng. Mau menggoreng atau menumis ya pakai minyak goreng. Bikin salad atau sambal juga pakai minyak goreng. Wah, pokoknya nggak bisa pisah dari minyak goreng deh. Hayoo... ngaku!

   Pernah lihat minyak goreng di abang gorengan? Hii! Horor banget deh! Sudah dipakai berulang kali dan warnanya menjadi gelap kecoklatan. Hal yang sama juga sering terjadi di rumah. Nah, yang seperti ini bisa membuat masakan rumah menjadi silent killer! Makan masakan rumah bukannya jadi sehat, malah nambah penyakit.

  Mengapa minyak goreng dipakai berulang kali? Alasannya biar praktis dan menghemat biaya. Ibu Mulina melihat bahwa masyarakat sering kali menganggap minyak goreng adalah hal yang tidak berbahaya. Berikut adalah saran beliau tentang cara penggunaan minyak goreng yang tepat:
“Agar terhindar dari penyakit berbahaya, pastikan jangan gunakan minyak secara berulang-ulang. Jika minyak sudah berubah warna akibat sisa makanan, sebaiknya ganti dengan minyak yang baru. Selain itu, hindari penggunaan suhu terlalu panas saat memasak, karena dapat membentuk radikal bebas yang merugikan kesehatan dan merusak kandungan vitamin dalam minyak goreng.” 
   Selain salah dalam hal cara mengolah masakan, banyak ibu yang tidak memperhatikan kriteria minyak goreng yang baik dan menganggap semua minyak goreng sama saja. Minyak goreng yang baik dan memenuhi kesehatan umumnya memiliki kadar lemak tidak jenuh tunggal yang tinggi. Pada dasarnya minyak diperlukan dalam gizi yang seimbang. Di dalam minyak terdapat lemak yang berguna untuk meningkatkan enerdi dan membantu penyerapan vitamin A,D,E dan K. Plus, lemak dapat menambah masakan menjadi lebih lezat.

  Jangan lupa, konsumsi lemak yang berlebihan dapat menimbukan kegemukan dan penyakit degeneratif seperti kanker, penumpukan lemak di hati, dan yang paling populer yaitu jantung koroner. Jadi, kandungan lemak yang masuk ke dalam tubuh harus dijaga betul, menggunakan minyak goreng baik yang sedikit menempel di makanan sangat baik untuk makanan yang digoreng. 

  Minyak goreng itu salah satu sumber lemak yang dibutuhkan oleh tubuh. Jadi, pilih minyak goreng yang baik. Ciri-ciri minyak goreng yang baik yaitu:
  1. Berwarna bening. Adanya perubahan warna pada minyak goreng adalah salah satu tanda minyak mulai mengalami kerusakan atau oksidasi. Tidak mengkonsumsi minyak goreng yang sudah rusak (seperti yang terlihat di wajan milik abang gorengan), dapat membantu menghindari resiko penyakit kanker. 
  2. Memiliki tingkat kekentalan yang menyerupai air (lebih encer). Minyak goreng yang lebih encer membuat minyak yang menempel di makanan menjadi lebih sedikit, otomatis lebih sedikit juga minyak yang terkonsumsi. 
  3. Tidak mudah beku, yang berarti mempunyai kandungan lemak jenuh yang lebih sedikit.
  Bagaimana cara membuktikan minyak goreng itu baik atau tidak? Coba saja dengan tes organoleptic, yaitu dengan cara mengecap sejumlah minyak goreng (kira-kira 1 sendok). Jika tanpa ada rasa atau rasanya seperti air, itu adalah salah satu juga tanda minyak goreng yang baik. Saya pun manggut-manggut mendengar penjelasan dari Ibu Mulina.

Minyak goreng Sunco

  Minyak goreng SunCo merupakan minyak goreng yang baik dan memenuhi persyaratan di atas. Warnanya bening karena berasal dari buah kelapa sawit yang segar. Kelapa sawit terbukti tidak menimbulkan kolesterol. Minyak goreng SunCo juga tidak mudah beku pada suhu rendah karena memiliki minyak jenuh terendah dibandingkan dengan minyak goreng lainnya.

  Selanjutnya dibuka sesi tanya jawab untuk peserta. Usai sesi ini, acara terakhir adalah demo masak oleh Chef Nanda. Chef Nanda mempraktekkan cara membuat mayonasaise ala SunCo dan tempura. Bahan-bahan yang digunakan juga dipilih bahan yang berkualitas seperti telur omega tiga yang kuning telurnya berwarna kemerahan.



Demo masak (foto: Twitter @SunCo_ID)

   Pada akhir demo masak, Chef Nanda menantang Mas Christian Sugiono untuk meminum minyak goreng SunCo sebagai bukti bahwa Sunco adalah #minyakgorengbaik. Uji coba organoleptic ini juga melibatkan tiga orang peserta. Wow, seru!



   Hasilnya? Minyak goreng SunCo ternyata dapat diminum dan dirasakan di rongga mulut. Ini disebabkan sifat dan karakternya seperti air. Tidak lekat atau berbau. Minyak mudah mengalir sehingga tidak seret atau menyangkut di tenggorokan. 



   Karena seperti air, tidak perlu khawatir banyak lemak yang menempel pada makanan yang diolah dengan minyak goreng SunCo. Cuma #dikitnempel, lho! Pas banget untuk pemenuhan kebutuhan lemak bagi tubuh. SunCo minyak goreng baik dikit nempel di makanan.



   Minyak goreng SunCo diproses secara khusus dan hasil produksinya bebas lemak trans, mengandung 57% asam lemak tak jenuh dan difortifikasi vitamin A 30% AKG (angka kebutuhan gizi). Pada Januari 2012, Sunco menerima penghargaan "Peduli Gizi 2012 Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng". 

   Nah, jadi paham sekarang bagaimana cara menyajikan masakan rumahan yang sehat dan memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Keluarga yang sehat adalah awal dari generasi yang sehat. 

   Mau tahu lebih banyak tentang minyak goreng SunCo? Bisa lihat langsung di Facebook Fanspage SunCo Indonesia. Atau mau coba resep-resep sehat yang oke punya? Coba saja klik link www.minyakgorengsunco.com  atau www.resepsehat.com

Yuk, kita mulai hidup sehat mulai dari sekarang ^_^

17 comments:

  1. Judulnya ngeri saja mak tp emang bener juga kalo masak pasti dikit2 minyak ya. Nadia jg sukanya masakan yg gurih n goreng2an makanya PR banget gmn caranya bikin masakan yg sehat n beegizi. Andaikan aku jago masak kaya mak ina :(

    ReplyDelete
  2. Mbaa, aku baru tahu tuh cara untuk mengetahui minyak yang bagus atau nggak. Fix nih langsung dicoba, Makasih :)

    ReplyDelete
  3. wah, memang sih minyak goreng nampaknya berbahaya, sanco kan yang iklannya minyak goreng bisa diminum itu kan mbak. nampaknya memang sehat, lebih sehat lagi kalau pakai minyak zaitun kali ya

    ReplyDelete
  4. saya penyuka gorengan banget nih, harus pilih minyak yg baik ya biar tetep sehat

    ReplyDelete
  5. Jadi inget, gorengan di deket rumah minyaknya sampe item gitu...ternyata ga baik yaa buat tubuh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mb Ipeh uda item pisan masih hayu weh dipake goreng ckckck Seremmmm

      Delete
  6. Thanks for sharing mak,,lengkap banget deh penjelasanya.

    ReplyDelete
  7. emang harus waspada nih sama makanan dalam dan luar rumah ya mba...terutama pas mengolah makanan

    ReplyDelete
  8. Inget2 selalu jangan beli makanan yang mengandung lemak trans ya.

    ReplyDelete
  9. sempet kaget juga pas ikutan simposium ini.. ternyata memang harus mulai berubah dari segi pola makan dan aktivitas.. jangan malas gerak.. btw salam kenal ya mba :)

    ReplyDelete
  10. Iya,,, mba bener2 hrs konsen u.mkanan kelg, untung minyaknya dh aku pake sjk lama

    ReplyDelete
  11. Mba... itu ada yang typo kali ya. Blabla?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah makasih ralatnya. iya, lupa diganti dari coret2an draft :p

      Delete
  12. Walaupun aku cowok aku juga sering masak... dan emang bener banget.. sunco andalan aku saat butuh minyak yang higenis dan tampilanya aja bening... jadi lebih sehat dan terjamin...

    ReplyDelete
  13. waduh sayang nih gak ikutan, padahal workshop ini penting banget buat para emak-emak

    ReplyDelete
  14. susah jg sih, kdg orang mentingin beli minyak goreng yg murah (termasuk akoeh). Plg diusahakan utk gak berulang2 pake krn kan bahaya... Tp memang udah mesti pilah pilih dr sekarang demi kesehatan

    ReplyDelete

Yuk, beri tanggapan dengan bahasa yang sopan dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih ^_^