Wednesday, June 12, 2013

Memasak ala Emak Riweuh

Kk Rasyad membantu di dapur
Saya suka memasak. Padahal saya sebelumnya tidak bisa memasak, lho. Saya mencoba memasak sendiri ketika kuliah dan kost di Bandung. Kebetulan di tempat kost saya para penghuninya diperbolehkan membawa peralatan memasak. Apa yang saya masak? Hanya membuat masakan yang gampang dengan cara direbus, digoreng, atau dioseng saja. 


  Saya mulai serius belajar memasak setelah menikah, 11 tahun yang lalu. Sebelum berangkat merantau, saya mewawancarai Mamah mertua (kini sudah almarhum), menanyakan resep masakan kesukaan suami. Saya mencatatnya di agenda. Resep beberapa masakan rumah dari Mami saya juga ikut dicatat. Lancar? Tidak juga! Meski sudah dicatat, prakteknya ternyata sulit. Saya malah bingung. Membuat sepanci kecil sayur asem saja saya masih bertanya pada Mamah mertua. Saya menelpon interlokal dari Semarang ke Bogor di siang hari bolong, berkali-kali pula. Wuah, jebol deh tagihan telepon!

   Sebelum menikah, saya sudah mengumpulkan kliping resep masakan dari majalah dan koran yang saya tempel di kertas dan kemudian dijilid (aih, saya rajin, ya). Kliping itu saya bawa ke tanah rantau. Saya baca, pelajari, dan praktekkan. Alhamdulillah, karena sering berlatih, saya jadi bisa memasak sekarang *tepuk tangan sendiri*
  Tinggal di Solo dengan bayi anak pertama dan seorang asisten rumah tangga adalah masa 'penggemblengan' kemampuan memasak saya. Ada si Mbak yang membantu mengasuh bayi dan membantu di dapur membuat saya bisa leluasa belajar memasak. Saya terinspirasi dengan tayangan televisi kesukaan saya, yaitu acara Allez Cuisin di Indosiar. Sama seperti acara itu, saya tertantang untuk mencipakan 4 macam hidangan dalam waktu singkat. Ya, saya juga harus bergerak cepat saat memasak. 
  Selesai menidur pagi-kan Aa Dilshad yang masih bayi, saya langsung bergerak pakpikpek memasak di dapur. Hidangan utama: nasi harus matang. Oia, saya tidak memasak nasi pakai rice cooker, lho! Nasi saya aron dan kukus di dandang. Hasilnya lebih enak, nasi lebih pulen, dan awet. Sayang, kebiasaan baik ini hanya bertahan 4 tahun saja. Saya mulai menggunakan rice cooker menjelang kelahiran anak ketiga. Gara-gara nemu rice cooker di rumah dinas baru kami di Palangkaraya. Lumayan, ternyata masak nasi dengan rice cooker mengurangi kerepotan saya yang sudah akan beranak tiga (ih, baru tahu, ya. Kemane aje???)

  Lanjut tentang tantangan Allez Cuisine tadi. Nasi harus siap. Hidangan berikutnya yang wajb ada: lauk makan (bisa tumisan atau gorengan), sayuran (bisa berkuah atau hanya osengan), cemilan (untuk ngemil sore atau setelah makan malam), penutup (biasanya kalau tidak beli buah, saya bikin agar-agar). Saya berpacu dengan waktu. Masak secepat mungkin sebelum Aa Dilshad bangun. Saat dia bangun, sudah waktunya disuapi cemilan buah sebelum disuapi makan siang. Makan siang juga harus siap sebelum jam 12. Bapa yang berkantor dekat rumah akan pulang untuk istirahat makan. Kasihan, kan, kalau pulang dari kantor tapi makan siang belum siap.
  Dua tahun berlalu, kami pindah dari Solo ke Denpasar. Mempunyai anak umur 2 tahun yang aktif dan tidak mempunyai pembantu tentu merepotkan. Memasak dalam kondisi seperti itu juga jadi tantangan tersendiri. Saya harus bisa! Alhamdulillah, saya sukses melewati tantangan ini. Masakan tersedia, rumah terurus, dan anak tetap terawat dengan baik (tapi emaknya jadi kurang terawat, haha).

   Tahun demi tahun berlalu, tidak terasa saya sudah punya tiga anak. Sudah sepuluh kota  pernah menjadi tempat tinggal kami. Tempat paling menantang kemampuan memasak saya adalah di Palangkaraya. Saat itu saya sibuk dengan dua anak yang aktif dan mengurus bayi sendirian di rumah. Riweuh namun saya harus cermat membagi waktu memasak. Apalagi ada menu yang terkadang ribet namun wajib dikerjakan setiap hari. Menu apa it? Menu makanan bayi home made! Merebus, memblender, menyaring makanan bayi sering dilakukan sambil memotong dan menggoreng masakan lain. Belum lagi jika si Kk Rasyad (masih berumur 3 tahun) rewel minta ini itu. Lalu Dd Irsyad owek-owek bangun minta mimik. Kemudian tiba-tiba brrrr hujan! Jemuran belum diangkat! Mau ninggalin gorengan takut gosong. Aakkk! Toloonggg! Saya butuh tangan guritaaa! Riweuuh!!!

  Pelajaran memasak selanjutnya yang cukup penting adalah saat tinggal di Makassar. Sering mencicipi kuliner Makassar yang lezat menggoda saya untuk mencoba memasaknya sendiri. Saya browsing sebentar, mencari resep yang saya rasa cocok untuk lidah keluarga tercinta ini. Resep sering saya modifikasi sendiri. Saya juga sering tidak melihat resep alias menebak bumbu dan mengarang resepnya sendiri. Saat mencicipi masakan yang lezat di restauran, lidah saya mengecap dan menerka bumbu dapur apa saja yang digunakan. Beberapa hari kemudian, langsung saya praktekan bumbu 'ramalan' saya tersebut. Eeh, ternyata kata Bapa, rasanya mirip dengan hidangan aslinya! Alhamdulillah.


Mau bikin tempe kecap. Tempenya diapain, tuh?

   Sudah canggihkah kemampuan memasak saya? Tentu belum. Saya masih harus banyak belajar. Berdasarkan pengalaman, saya menemukan gaya memasak ala saya sendiri. Mau tahu apa saja? Cekidot!

  Memasak ala Emak Riweuh:
  1. Perencanaan memasak apa hari ini. Jangan memasak beberapa menu sulit sekaligus. Kombinasikan menu sulit dengan menu mudah. Misalnya memasak pepes (sulit sih tidak, cuma ribet ngebungkusinnya) dibarengi dengan memasak sop (yang hanya tinggal cemplang-cemplung).
  2. Cuci, potong, dan kelompokkan bahan sesuai jenis masakan dalam piring/wadah plastik. Seperti koki restauran Cina, bahan masakan sudah dikelompokkan  sebelum proses memasak dimulai. Jadi, tinggal sreng sreng sreeenggg!
  3. Masak seefisien mungkin. Makin cepat selesai, makin baik. Anak-anak yang dari tadi keleleran dicuekin emaknya masak, bisa kembali terurus.
  4. Berbelanja bahan makanan sekaligus untuk beberapa hari. Misalnya beli ayam untuk masak besok. Dibumbui hari ini, taruh di kulkas, dimasak keesokan harinya. Rasanya jadi lebih enak karena bumbu sudah meresap.
  5. Membuat bumbu dasar sendiri lalu disimpan di kulkas jarang saya lakukan. Saya suka ngedadak aja pakai bumbu dapur seperlunya saat memasak. Kadang saya pakai bumbu instan juga, kok, disaat kepepet, hehe  
Sate daging yang dibumbui, lalu ditaruh di kulkas

Cumi goreng tepung yang langsung ludess

  


















  Apa lagi,ya? Ya gitu deh. Pokonya pakpikpek brangbrengbrong ... triiingg jadi deh! Nah, sekian dulu cerita dari saya. Saya membuat tulisan ini sebagai pembukaan. Selanjutnya, saya ingin membuat postingan tentang resep makanan. Dengan membaca tulisan ini. diharapkan pembaca mengerti mengapa resep ala saya masaknya 'enggak ngerepotin'. Terima kasih sudah membaca postingan ini :)

8 comments:

  1. tepuk tangaaaan... Salut deh mak sama daya upaya belajar memasak hingga sekarang jago masak. Itu cumi goreng saya comot satu ya...:D

    Saya mengundang mak Riana partisipasi pada GA Menyemai Cinta:
    http://forgiveaway.blogspot.com/2013/06/give-away-menyemai-cinta.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan... cuminya mau tambah? :D

      Makasih tepuk tangannya, Bu :) Saya belum jago masak, masih jago makan, hihi.

      Iya, saya sudah tahu ttg GA-nya dari kemarin :) Tapi belum dapet ide, nih *semedi dulu*

      Delete
  2. Keren sangat, suka Emak...hihiii. Aku juga enggak hobby banget masak. Tapi klo lagi mood, aku bisa masak apa saja. Termasuk tumpeng nasi kuning lengkap untuk ibu mertuaku. Itu karya perdana saya...

    http://www.astinastanti.blogspot.com/2012/10/tumpeng-untuk-ulang-tahun-ibu-mertua.html

    Salam
    Astin

    ReplyDelete
  3. Wah, hebat Mak Astin :) Kalo lagi semangat masak apa saja pasti hasilnya oke :)
    Sudah ke tkp n komen di sana, ya :)

    ReplyDelete
  4. Sipp Mak..perencanaan masaknya..^^. Kalau untuk khusus masakan..aku suka menu2 one side dish Mak..atau menu2 baru yang belum pernah di makan keluarga ..jadi walupun cuma satu menu..terasa istimewa dan enak..karena kan belum pernah sebelumnya..^^..misal..hari ini bikin Soto Betawi..besok coba tahu tek.dll..jadi sekarang jarang masak yang beberapa lauk / masakan sekaligus..soalnya musti coba resep2 yang lain juga..kayak kue2..dll..^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo anak sulungku suka protes kalo emaknya masak satu macem aja, si Aa maunya macem2 :p
      Salut, Mak, buat uji coba bikin kuenya :)
      Kalo bikin kueh nyerah deh dirikuw *kibar bendera putih*

      Delete
  5. Salam kenal :)
    Salut deh bs ngurus anak 3 sambil masak dan urus rmh, sy ngurus satu anak aja udah riweuh kyknya. hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, salam kenal kembali :)
      Saya jg riweuh waktu masih punya satu anak, lalu dua anak, terus tiga...level riweuh meningkat, hehe. Tapi lama2 biasa dan merasa aneh sendiri kalo masak ga pake riweuh :D
      Terima kasih sudah mampir, Mbak :)

      Delete

Yuk, beri tanggapan dengan bahasa yang sopan dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih ^_^